7 Blunder Penjual Marketplace yang Bikin Pelanggan Kabur (Hindari Sekarang!)

Pernah nggak sih kamu upload produk sampai puluhan item, pasang harga kompetitif, tapi orderan tetap sepi seperti kuburan? Kalau iya, kamu nggak sendirian.

Faktanya, ribuan penjual di marketplace gagal mencapai target penjualan bukan karena produknya jelek, tapi karena kesalahan-kesalahan kecil yang sebenarnya mudah dihindari. Kesalahan yang terlihat sepele ini justru bisa membuat toko kamu tenggelam di antara jutaan kompetitor.

Kabar baiknya? Semua kesalahan ini bisa diperbaiki mulai hari ini. Di artikel ini, kamu akan menemukan 7 kesalahan fatal yang sering dilakukan penjual marketplace dan cara mengatasinya dengan praktis. Siap-siap catat ya, karena tips ini bisa jadi turning point bisnis online kamu!


1. Foto Produk Asal-asalan yang Bikin Calon Pembeli Kabur

Ini kesalahan nomor satu yang paling sering terjadi: foto produk yang buram, gelap, atau bahkan pakai watermark orang lain.

Di marketplace, foto adalah senjata utama kamu. Bayangkan kamu lagi scroll mencari sepatu, lalu menemukan dua toko: yang satu fotonya HD dengan berbagai sudut pengambilan, satunya lagi foto pakai kamera kentang dengan pencahayaan gelap. Mana yang akan kamu klik?

Kesalahan teknis yang sering terjadi:

  • Foto terlalu kecil atau resolusi rendah
  • Pencahayaan buruk hingga warna produk tidak terlihat jelas
  • Hanya satu foto tanpa variasi sudut pandang
  • Background berantakan atau tidak profesional

Solusinya sederhana: investasi waktu untuk mengambil foto berkualitas. Kamu tidak perlu kamera mahal, smartphone dengan pencahayaan natural sudah cukup. Gunakan background putih atau netral, ambil dari berbagai sudut, dan pastikan detail produk terlihat jelas. Jangan lupa tambahkan foto produk saat digunakan (in action) agar pembeli lebih mudah membayangkan.


2. Deskripsi Produk Copy-Paste atau Tidak Lengkap

Masih banyak penjual yang malas menulis deskripsi lengkap dan memilih jalan pintas: copy-paste dari toko lain atau dari supplier. Ini fatal banget!

Deskripsi produk bukan cuma formalitas. Ini adalah sales pitch kamu yang bekerja 24/7 tanpa henti. Ketika calon pembeli membaca deskripsi yang lengkap dan meyakinkan, mereka akan lebih percaya diri untuk klik tombol “Beli”.

Yang harus ada di deskripsi produk:

  • Spesifikasi lengkap (ukuran, bahan, berat, warna tersedia)
  • Keunggulan produk dibanding kompetitor
  • Cara penggunaan atau perawatan
  • Informasi pengiriman dan garansi (jika ada)

Hindari deskripsi yang terlalu bertele-tele atau penuh dengan janji yang tidak realistis seperti “produk terbaik sejagat raya” tanpa penjelasan konkret. Tulislah dengan jujur tapi tetap persuasif. Gunakan bullet points untuk memudahkan pembaca memindai informasi penting dengan cepat.


3. Harga Tidak Masuk Akal (Terlalu Murah atau Terlalu Mahal)

Strategi harga adalah seni yang harus dikuasai. Terlalu murah? Pembeli curiga kualitasnya jelek. Terlalu mahal? Langsung di-skip.

Banyak penjual pemula yang berpikir dengan memasang harga super murah akan langsung laris manis. Kenyataannya, harga yang terlalu murah justru menimbulkan red flag: “Kok bisa semurah ini? Jangan-jangan barang KW atau bekas?”

Di sisi lain, ada juga yang memasang harga terlalu tinggi tanpa value proposition yang jelas. Kenapa produk kamu lebih mahal Rp 50.000 dibanding toko sebelah? Kalau tidak bisa menjelaskan dengan jelas (misal: bahan lebih premium, garansi lebih lama, free konsultasi), pembeli akan pilih yang lebih murah.

Cara menentukan harga yang tepat: Lakukan riset kompetitor, hitung HPP (Harga Pokok Penjualan) dengan teliti termasuk ongkir dan biaya marketplace, tentukan margin profit yang wajar (biasanya 20-30% untuk pemula), dan jangan lupa pertimbangkan biaya iklan kalau kamu pakai ads.


4. Slow Response atau Malah Nggak Balas Chat Sama Sekali

Di era digital, kecepatan respons = profesionalisme. Calon pembeli yang nge-chat biasanya sudah dalam tahap serius mau beli, mereka cuma butuh konfirmasi atau pertanyaan kecil.

Kalau kamu balesnya lama atau bahkan tidak balas sama sekali, mereka akan langsung pindah ke toko lain yang lebih responsif. Sesimple itu. Ingat, di marketplace, kompetitor kamu cuma berjarak satu scroll layar.

Dampak slow response yang perlu kamu tahu:

  • Menurunkan rating toko dan persentase chat dibalas
  • Mengurangi kepercayaan calon pembeli
  • Kehilangan momentum “impulse buying” dari customer
  • Algoritma marketplace akan menurunkan ranking toko kamu

Solusinya: aktifkan notifikasi chat marketplace di HP kamu dan usahakan balas maksimal 1 jam. Kalau memang sedang sibuk, buat template balasan otomatis yang profesional seperti “Halo kak, terima kasih sudah chat. Saya akan balas pertanyaan kakak maksimal 1 jam ya. Mohon ditunggu 🙏”. Jangan lupa gunakan fitur chat template untuk pertanyaan yang sering muncul agar lebih efisien.


5. Tidak Memanfaatkan Fitur Promosi dan Iklan Marketplace

Banyak penjual yang hanya mengandalkan traffic organik dan tidak mau keluar modal sedikitpun untuk promosi. Hasilnya? Produk tenggelam di halaman 50 dan tidak ada yang lihat.

Marketplace seperti Tokopedia, Shopee, atau Lazada punya algoritma yang memprioritaskan toko yang aktif beriklan dan mengikuti program promosi mereka. Ini bukan konspirasi, tapi memang bisnis model mereka.

Fitur promosi yang wajib kamu coba:

  • Flash Sale atau Daily Deals (diskon khusus di waktu tertentu)
  • Voucher Toko (bisa atur sendiri nominal dan syaratnya)
  • Iklan Produk (product ads) untuk boost visibilitas
  • Gratis Ongkir (subsidi dari marketplace atau toko)

Kamu tidak perlu langsung beriklan besar-besaran. Mulai dengan budget kecil Rp 10.000-20.000/hari untuk product ads, lihat hasilnya, lalu scale up kalau memang profitable. Yang penting konsisten dan terus eksperimen dengan jenis promo yang paling cocok untuk target market kamu.


6. Mengabaikan Rating, Review, dan Testimoni Pelanggan

Rating dan review adalah social proof paling kuat di marketplace. Toko dengan rating 4.9 dan ribuan review pasti lebih dipercaya dibanding toko baru dengan rating 4.5 dan hanya 10 review.

Sayangnya, banyak penjual yang pasif dalam hal ini. Mereka tidak pernah meminta review, tidak merespons review negatif, bahkan ada yang cuek ketika ada komplain. Ini bunuh diri pelan-pelan untuk bisnis online kamu.

Strategi meningkatkan review positif:

  • Selalu follow up setelah barang sampai dan tanyakan kepuasan pelanggan
  • Sertakan insert card atau pesan terima kasih yang meminta review
  • Berikan small incentive seperti “Kasih review dapat voucher Rp 10.000 untuk pembelian berikutnya”
  • Tanggapi setiap review (baik positif maupun negatif) dengan profesional

Kalau dapat review negatif, jangan diabaikan atau malah balas dengan emosi. Akui kesalahan (jika memang salah), minta maaf, dan tawarkan solusi konkret. Calon pembeli yang membaca interaksi ini justru akan respect dengan cara kamu menangani masalah.


7. Stok Kosong tapi Produk Masih Aktif di Etalase

Ini sangat-sangat menjengkelkan dari sisi pembeli: sudah klik produk, sudah tertarik, eh ternyata pas mau checkout stok kosong. Pengalaman seperti ini bikin pembeli kapok dan nggak akan balik lagi ke toko kamu.

Kesalahan ini terjadi karena penjual tidak disiplin dalam mengupdate stok. Mungkin karena malas, lupa, atau memang tidak punya sistem inventory yang baik. Padahal dampaknya sangat besar terhadap reputasi toko.

Kenapa ini berbahaya:

  • Menurunkan conversion rate dan kepercayaan toko
  • Bisa kena penalty dari marketplace (penurunan ranking)
  • Merusak user experience yang berdampak jangka panjang
  • Membuang-buang traffic yang sudah susah payah didapat

Solusinya: rajin update stok setiap hari atau gunakan fitur otomatis sinkronisasi stok jika kamu jualan di multiple marketplace. Kalau produk memang sedang kosong tapi akan restock segera, lebih baik non-aktifkan dulu atau tulis di deskripsi “Restock [tanggal] – Bisa pre-order”. Transparansi seperti ini justru bikin pembeli lebih appreciate.


8. Kemasan Pengiriman Seadanya yang Bikin Produk Rusak

Jangan salah, kemasan adalah bagian dari customer experience. Produk bagus tapi sampai dalam kondisi penyok, sobek, atau rusak akan langsung dapat review negatif.

Banyak penjual yang terlalu perhitungan soal kemasan. Mereka pakai kardus bekas, tanpa bubble wrap, atau packing seadanya. Hasilnya? Barang pecah, complain customer, harus retur dan refund, rugi berkali-kali lipat.

Investasi kemasan yang baik adalah investasi untuk reputasi toko kamu. Gunakan kardus yang kuat sesuai ukuran produk, tambahkan bubble wrap atau filling untuk produk fragile, dan seal dengan rapi. Bonus poin kalau kamu bisa tambahkan branding sederhana seperti stiker toko atau thank you card.

Jangan lupa untuk foto produk sebelum dikirim sebagai bukti bahwa kamu packing dengan baik. Ini akan melindungi kamu jika nanti ada claim produk rusak saat pengiriman.


9. Tidak Konsisten dalam Upload Produk Baru

Algoritma marketplace menyukai toko yang aktif dan konsisten. Toko yang jarang upload produk baru atau tidak ada aktivitas akan dianggap “toko mati” dan diturunkan rankingnya.

Konsistensi dalam upload produk baru (minimal 1-2 produk per minggu) menunjukkan bahwa toko kamu serius dan terus berkembang. Ini juga memberikan alasan bagi pelanggan lama untuk kembali mengunjungi toko kamu.

Tips konsisten upload produk:

  • Buat jadwal upload rutin (misalnya setiap Selasa dan Jumat)
  • Siapkan stok foto dan deskripsi produk jauh-jauh hari
  • Mulai dari variasi produk yang sudah ada (warna, ukuran berbeda)
  • Riset tren dan produk yang sedang naik demand

Konsistensi bukan berarti kamu harus upload banyak produk sekaligus lalu hilang berminggu-minggu. Better upload 2 produk per minggu secara konsisten daripada upload 20 produk sekaligus lalu vakum sebulan.


10. Tidak Pernah Analisis Data dan Evaluasi Performa Toko

Kesalahan terakhir dan mungkin yang paling fatal: jualan tanpa data, hanya berdasarkan feeling. Kamu tidak tahu produk mana yang paling laku, dari mana traffic datang, kapan waktu order terbanyak, atau kenapa conversion rate turun.

Semua marketplace menyediakan dashboard seller dengan data analytics yang sangat lengkap dan gratis. Tapi sayangnya, hanya sedikit penjual yang benar-benar memanfaatkannya untuk membuat keputusan bisnis.

Metrik penting yang harus kamu monitor:

  • Total kunjungan vs conversion rate
  • Produk dengan performa terbaik dan terburuk
  • Waktu aktivitas pembeli (kapan mereka paling sering belanja)
  • Sumber traffic (organik, iklan, atau social media)
  • Rating toko dan persentase komplain

Luangkan waktu minimal 1-2 jam per minggu untuk review data ini. Dari data tersebut, kamu bisa tahu strategi mana yang berhasil dan mana yang perlu diperbaiki. Jangan cuma fokus jualan terus tanpa evaluasi, karena kamu akan terus mengulang kesalahan yang sama.


Kesimpulan

Jualan di marketplace memang bukan sekadar upload produk lalu duduk manis menunggu order masuk. Butuh strategi, konsistensi, dan kesediaan untuk terus belajar dan beradaptasi.

Ketujuh kesalahan fatal di atas adalah jebakan yang paling sering dialami penjual pemula. Kabar baiknya, semua kesalahan ini bisa diperbaiki mulai hari ini. Mulai dari yang paling mudah seperti memperbaiki foto produk dan deskripsi, lalu tingkatkan ke strategi yang lebih kompleks seperti iklan dan analisis data.

Ingat, kompetitor kamu juga manusia yang bisa salah. Dengan menghindari kesalahan-kesalahan di atas, kamu sudah selangkah lebih maju dari ribuan penjual lain di marketplace.

Sekarang giliran kamu! Dari 10 kesalahan di atas, mana yang pernah atau sedang kamu alami? Share pengalaman kamu di kolom komentar dan jangan lupa bookmark artikel ini sebagai panduan untuk terus evaluasi toko kamu. Mari kita belajar bersama!

Leave a Comment